Kamis, 16 April 2026

Oktaf Tak Sampai, Tapi Cinta Melampaui

Oktaf Tak Sampai, Tapi Cinta Melampaui
Suaraku mungkin sudah melanglang buana, mengetuk jutaan telinga di panggung-panggung
megah, tapi di hadapanmu, aku hanyalah penyanyi yang gagal mencapai nada tinggi yang kau
pinta tempo hari.
Maafkan pita suaraku yang sedikit "mogok" ini, ia menyerah tepat di tangga nada yang paling
tinggi, mungkin karena ia tahu, setinggi apa pun aku memanjat, takkan pernah menyamai
tingginya rasa kagumku padamu.
Jangan cemberut, anggap saja ini keterbatasan teknis, karena sebenarnya, nadaku yang paling
rendah maupun tinggi hanya punya satu tujuan: mendarat di hatimu seorang. Biarlah duniaku
punya ribuan lagu, tapi bagiku, kau adalah melodi paling keren yang tak butuh lirik— hanya
butuh aku, dan cinta yang tak pernah fals ini.




Muatan


Penuh sudah
Bagai rapinya tata
Semua terusung dekat
Kala menaikkan segala niat
Sarat dalam makna telah termuat

Nyanyianmu dari dalam sukma
Menggerakkan hamparan kaki
Penanti gerak paruh baya meliar
Dalam nama dan lagu kondang
Dilembut bibir para bidadari setia
Penghuni panggungmu kala itu

Lelahku terobati
Begitu paraumu jadi berarti
Bagi banyak belia tlah menari
Meresapi tembang yang menghentak
Tanpa murka namun menyeruakkan 
Sebuah arti sepi yang mengilhami.

;



Termasuk Tidak Terhitung



Sebuah yang dibendakan oleh nyanyiannya adalah mimpinya...
Tingginya tempat yang digambarkannya juga hanya jalan panjangnya menebar fantasi disetiap bangunan imaginasi dirinya ketika harus membawa setiap ambisi yang dijadikan amunisi untuk meraih pencapaian yang terkadang masih harus berulang mendefinisi ulang sebagai prestasi....
Jika dibendakannya semua mimpi itu maka siapa yang akan menolak pada kelompok yang sudah mengangkat setuju menjadikannya sebagai yang tiada dapat dihitung, apalagi hanya dengan jari-jari miliknya.

Tiada pernah ia menampakkan keinginan mengatakan, satu bagian tentang dirinya yang berada bukan pada tempat sepantasnya ia harus berada; keadaan yang dibawa para tetua monarki bangunan game-teranyar yang sering dipilih pengunjung menjadi permainan keseharian; permainan yang terkadang membuyarkan pandangan pendatang terhadap tujuannya sendiri sampai di sana....
Tiada sedikit pun kata tentang bagaimana perjalanannya dalam cengkeram pengaruh penguasa yang tidak tampak oleh khalayak, menceburkan dirinya dari peramu satu keperamu berikutnya, terus berganti dalam berbagai situasi keahlian menempa berbagai hasil benda dan peristiwa menggelinding mengisi sudut-sudut negeri mimpinya. Seolah terceburnya dirinya dalam laboratorium dan sanggar-sanggar tua yang tersembunyi memaksanya tidak dapat menghindar harus selalu berhadap dengan para peramu-peramu dengan berbagai karakter dan perangai berbeda bahkan tidak sedikit yang sangat sulit dipahami manusia secara umum.
Peramu-peramu dengan tingkat wawasan hingga keahlian telah dipilih para tetua penguasa di sana mengeja arah kemana setiap cara dapat dibagikan pada sosoknya, pilihannya yang semakin hari semakin tiada mengerti lagi kemana semua cerita masa lalu akan tersusun utuh disana kelak;
Tiada pula hasil yang dapat menjadi ceritanya, bagian tembang yang memampukan pemasang pendengar mengenali sekecil nada yang terangkai bagai suara hembusan naga.....



menandai yang berubah



mau marah, terlihat ia usa perbincangan itu,
laju ia mengurungkan niat;
disadarkan akoleh hal lain ,
yang kemudia ia namakan peristiwa kecil;
walau ada arti yang kin ia pertanyakan.

katanya, memang harus diterima
ia tak mampu lagi mengandalkannya
seorang yang pernah selalu diacungi
ibu jari dengan pembubuh aneka macam
penghias sebagai kagum atau sanjungan,
tanpa pernah menyadari
kelak hanya dipandang sebelah mata,.
seoal tidak mengenali pola rasa saat bersama
berbagi banyak hal mengisi hari gelap dan siang
kini semua tentangnya, selalu pencapaian....
dikira kita orang tidak merasa capai,
kadang juga merasa sapek;
yang lebih menohok ketika yang didengatnya
hanya yang paling menguntungkannya;

kembali rasanya ia ingin mereview
semua acungannya
juga seluruh timbunan sanjungannya
dulu yang pernah dibikinnya;
namun untuk apa pula?
yang dia baca kini hanya posisinya
takut ia untuk kembali pada masa lalu
;;;;;;;


Jumat, 27 Maret 2026

temannya teman

Berapa lagu sudah ia nyanyikan, 
Lagu yang dipilihnya, juga yang diberikan
Tanpa ada yang disuarakan sumbang, 
Bahkan sebagian jadi manisnya tembang;

Puluhan testimoni terlalu sedikit untuk mengatakan, 
Andai angka terkecil membuatnya tidak lagi berkata apa pun, 
Angka itu pastilah sudah melewati ribuan, 
Hingga ia lupa bicara, karena memandangi dengan tertegun;


Tahun demi tahun pandangannya dalam kekosongan, 
Apa yang ia sedang cari di seberang sana, 
Mungkinkah masih seperti yang dulu pernah dikatakan, 
Seolah lambaian itu mengatakan bagaimana ia di sana;

Lalu kini lembut dan samar terdengar lagi, 
Ia ingin menyapa dengan caranya, 
Tanpa penjelas kapan dan dimana📍❓
Pasti ada buatmu saat terbaik yang dipilihnya untuk kata ❤😘
#


Kamis, 19 Maret 2026

bisa gitu ya ?

Betulkah, Sempat Ratu Kuatir dan Kawatir? 


Namanya juga perhatian
Siapa bisa ingkar terus
Akan adanya taut butiran
Benih yang telah terhembus

Batas-batas langit bukanlah mendung
Kuas kuasanya tidak berbatas hamparan
Baginya setiap detik arti mengandung
Sebuah arti lebih dari sebatas penantian

Disini, kata telah menjadi
Sebuah batas semu
Menggapai sekeping arti
Hasratnya dalam temu

... 


Kamis, 09 Oktober 2025

Ketinggian Pemandangan



Sepanjang waktu sore
Jadi sepanjang kenangan
Bertanya kian kemari
Mendengar dari kejauhan
Muasal dinginya tempatmu
Punya cerita kian terurai
oleh setiap bidikan kecil
Langkah dan kerelaan jarinya
membekukan kenangan
disela langkahnya
meskipun kadang gemetar
menyeimbangkan dirinya
diantara semua mereka
yang masih bersama...
untuk tetap bertahan
agar masih bisa kembali
membawa semua cerita itu
bagi kita....
di sini.
Telusur akan jauhnya pandangmu
kini telah menjadi dekat
juga di hati...



Ketidakmungkinan menggapai
untuk sedikit mengerti...
sudah sedikit terjawab....
----

Senja dalam Ingatan: 
Sebuah Pengembaraan

Sepanjang hamparan waktu senja yang perlahan memudar, ingatan menjelma menjadi sebuah pengembaraan abadi. Ia tak henti bertanya, menelusuri kian kemari, mencoba menangkap bisikan dari kejauhan, menyelami muasal sunyi dan dinginnya tempatmu berada.

Tempat itu, ternyata menyimpan seuntai kisah yang kian hari kian terurai; sebuah narasi yang terukir oleh setiap bidikan kecil yang diambil, setiap langkah yang dipancangkan, dan kerelaan jemarinya yang gigih. Semua itu adalah upaya hening membekukan kenangan yang tercecer di sela-sela perjalanannya.

Meskipun terkadang rasa gemetar menyelimuti, ia terus berusaha menyeimbangkan diri, berdiri tegak di tengah semua mereka yang masih berjuang bersama. Ini adalah perjuangan untuk tetap bertahan, demi satu harapan: agar suatu hari nanti ia masih bisa kembali, membawa serta seluruh untaian cerita yang berharga itu, untuk kita yang menanti... di sini.

Pandangan matamu yang dahulu terasa begitu jauh, kini seolah-olah telah menjelma menjadi kedekatan yang nyata, bahkan terasa hangat di dalam hati. Dan ketidakmungkinan yang dulu membayangi, hasrat untuk sekadar menggapai dan mengerti sedikit saja tentang duniamu, kini perlahan telah menemukan jawabannya yang hening dan memuaskan.

bottom ads

Oktaf Tak Sampai, Tapi Cinta Melampaui

Oktaf Tak Sampai, Tapi Cinta Melampaui Suaraku mungkin sudah melanglang buana, mengetuk jutaan telinga di panggung-panggung megah, tapi di h...