Minggu, 31 Mei 2020

Semua Masih Butuh Aman

Dibalik semua nyanyian rimba
Musisi ingin punya kisah
Pujangga ikutan bernyanyi
Mereka tak berpikir lagi
Yang umum bicara tentang
Semua bersama ingin aman
Angan telah banyak
Muncul diterbangkan
datang dan menghilang
Mengisi sisa suasana gerimis
Pergulatan pekat tanah
Ditanduk kaki-kaki pun bernyanyi
Berkilau gigi-gigi basah
Liur tertumpah bukan saat tidur
Tidak akan dibekukan dinginnya salju
Dibukit yang berpenghuni sinar surya itu....




Sabtu, 30 Mei 2020

Kapan-Kapan

➶➷➷
Ketika ini tidak lagi tentang lagu
Maka pernah suatu kali jawaban 
Yang pernah kau ucap tersimpan dalam 
Relung sepinya fajar jauh dari kebisingan
Tertatih-tatih kerentaan masih saja Melangkahkan kaki ketika embun masih tebal
Tak lama berselang nada dari kejauhan menandakan tempa suara kapak usang
Memecah keheningan membangunkan
Seantero ruang-ruang pengisi lorong fajar
Yang telah membuktikan kesetiaannya
Pada langit yang telah menjadi atapnya
Yang masih berselimut dalam kedinginan
Saat itu pun tak memilih jawab kapan-kapan dan ungkapan sejenis untuk muaskan rasa ingin tahu sebuah sumber
Suara itu menjadi sebuah sumber fajar
Punya secercah kisah

Kamis, 28 Mei 2020

Luas Pintas

Satu dua menit saja
Begitu kedipan mata
Dibalik lensa tebal
Seperti  ...ya seperti
Sudah sudah merangkum
Luas kisah tentang engkau

Setahuku tentangnya
Belum ada yang meleset
dari sketsa yang telah dibuatnya
Sketsa bagaimana ia menggambarkan
keadaan cintanya yang pernah utuh

Untuk engkau yang berlagu
Dengan barisan panjang penyuka
Tersebar dikejauhan pandangan mata
Luas bentang negeri tanpa terukur
Mengelukan lirik juga alunan musik
Nan senantiasa melekat dalam sanubari
Mereka yang sering mengulang

KANGEN - Campur Sari - Manthous: Pitung sasi lawase nggonku ngenteni Mung sliramu wong bagus kang dadi ati Rino wengi mung tansah tak impi-impi Jroning ati ka...

Ukuran Minor

Brilio

Sebanyak apa yang orang sudah tahu 
Terlintas dalam benak ketika kaki itu 
Mulai meniti tangga demi tangga 
Gedung kemegahan yang dibanggakan 
Oleh pemilik dan banyak kalangan yang terpaut oleh jamak cara lakunya
Sudut matanya memancarkan suar usai lewat gerbang penjaga 
Besaran yang dipertanyakan terjawab semu dan tanpa memudar bahkan lebih menebal tatkala tangga demi tangga dititinya semakin jauh dan semakin dalam
Ruang-ruang dilewati  dengan diam para penjaga berlaras dasi mengganti rupa
Namun semua tidak mampu menutup terawang hatinya yang mampu bergigi  dan berahang sekuat hiu menembus dingin kedalaman lautan yang tetap mampu melahap mangasanya
Tidak lebih dari tengah hari langkah pada Hal sepatunya mendekati tempat lain
Mengarah pada masakan basis kecil
Kali tanpa reaksi dan tanggapan ada rangsang minat matanya mengamat
Pada keanehan karya kompilasi seorang
Tokoh yang baginya sudah tak asing.
Is beranjak tanpa kata-kata meninggalkan senyap malam begitu saja





Kinds of Love




Senin, 25 Mei 2020

Dibalik awan mimpikah?


Untuk siapa lagi
Mereka menyembunyikan tanya 
Pentingkah kedatangannya di sana 
dan haruskah sebanyak itu barisannya
Tanya kerumunan urung terjawab 
Karena matanya hanya melihat raga
Yang dipinjam oleh jelita fajarnya
Untuk menjemputnya serta
Yang dipercaya oleh kedalaman hatinya memainkan melodi indah di sana
Cara yang tak ingin envision khalayak
Di tempat yang orang tak pernah tahu
Negeri dongeng yang memantulkan
Bias-bias suara arti kebebasan
Yang dilukis tanpa berbingkai
Di dekat bening aliran sungainya
Yang meliuk liuk dari bukit hijau
Tempat imaginasi sang maestro
Memainkan senyawa rupa berbalas
Menatap para bidadari-bidadari
Mewadahkan saji dalam cawan-cawan
Mencantikkan sejuknya alam
Yang sedang ditaburi wewangian
Oleh mekarnya bunga -bunga alam.
Dari tempat yang tinggi ia memandang
Dan raga yang dipilihnya mewadahkan
Kisah daun daun itu bukan untuk siapa
Karena ia tak ingin bicara tentang ini.







Selasa, 19 Mei 2020

Walau Engkau Jauh



Bagaimana lagi
Untuk bisa katakan
Inti dan maksud hati
Dengan lukisan beku
Saat tanpa getar nada
Hingga tiba barisanmu
Yang datang menjadi satu
Simphoni terindah menyapa
Hingga jari ini dapat memulai
Bergerak lagi menuangkan
Pekat pewarna menjadi bentuk
Seindah alunan kecantikan alami
Yang kau bawa serta menjadi bulat
Dalam setiap denting nada-nada
Bersama jarimu yang lentik itu
Percik demi percik dari ujung kuas
Turut melepas suara seperti liar
Burung betet dialamnya
Keluar dari semak mencari kehangatan dibawah kaki langit
Terbuka cahaya matahari tanpa ada
Penghalang sinarnya membelai bulu-bulunya hingga ke badannya
Lincah lalu terbang kembali kepada tempatnya ia akan menghabiskan malam
Tampilmu  menjadi tenaga yang menggerakkan dari kejauhan, jauh dari cara matamu melihat
Hanya tangan inilah yang terbawa menarikan bentuk imaginasi yang seperti pernah menghilang dan kini laksana terbang kembali menjadi teman menggoreskan lukisan kenangan - kenangan terindah yang tak akan musnah seperti pelepah yang cepat membusuk

bottom ads

Oktaf Tak Sampai, Tapi Cinta Melampaui

Oktaf Tak Sampai, Tapi Cinta Melampaui Suaraku mungkin sudah melanglang buana, mengetuk jutaan telinga di panggung-panggung megah, tapi di h...